Minggu, 21 Oktober 2012

PENYELIDIKAN KEFILSAFATAN TERHADAP DASAR KEILMUAN MODERN

I.     PENDAHULUAN


Perkembangan ilmu pada masa modern adalah munculnya pandangan baru mengenai ilmu pengetahuan yang dapat mempengaruhi dan mengubah manusia dan dunianya yang berperan penting dalam membentuk peradaban dan kebudayaan manusia. Semakin maju pengetahuan semakin meningkat keinginan manusia, yang dapat memperbudak manusia dan lebih mengerikan lagi yaitu dapat mengancam keamanan dan kehidupan manusia.
 Untuk mencermati perkembangan ilmu pengetahuan dan  teknologi itulah maka perlu kehadiran filsafat ilmu untuk mengembalikan arah ilmu pengetahuan dan teknologi  kepada “rel” yang sesungguhnya. Agar umat manusia tidak diancaman kecemasan. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa landasan ontologis, epistemologis, dan axiologis itu merupakan hal yang penting bagi setiap ilmu. Ketiga landasan itu  tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Ia harus saling terkait dan utuh. Sebab,  ketiga landasan itu..
merupakan keniscayaan bagi ilmu apa saja. Dengan perkataan  lain, landasan ontologis, epistemologis, dan axiologis ini tidak boleh tidak  pasti terdapat di dalam setiap ilmu apa saja. untuk itulah mari kita kaji terhadap aliran-aliran filsafat materialisme, idealisme, dualisme yang dapat mempengaruhi keilmuan modern dilihat dari sudut pandang Ontologi, Epistemologi, dan Axiologi

II.     ONTOLOGI (Teori Hakikat)

Ontologi merupakan salah satu diantara lapangan penyelidikan  atau pelacakan pemikiran kefilsafatan yang paling klasik yaitu muncul pada zaman Yunani kuno diantara kefilsafatan yang lainnya. Tokoh yang dikenal dalam teori ini adalah Thales atas pemikirannya tentang air.
Namun Zaman modern persoalan yang dihadapi oleh Thales yang hidup pada zaman Yunani kuno yang sudah berabad-abad lalu kini selau hadir dalam melacak pemikiran kefilsafatan terhadap dasar keilmuan modern. Karena dalam ontologi orang berfikir bagaimana hakikat dari segala yang ada. Menurut Dr. H. Cecep Sumarna teori ontologi adalah sama dengan teori hakikat yang tugasnya memberi jawaban atas pertanyaan apa sebenarnya realitas sesuatu? Dan apakah sesuai dengan penampakannya?.
Dari pertanyaan yang disodorkan oleh Dr. H. Cecep Sumarna tersebut membuktikan bahwa setiap orang dihadapkan dengan persoalan kenyataan yaitu berupa materi kebenaran dan kenyataan yang berupa rohani (kejiwaan). Hakikat adalah kenyataan atau Riil artinya kenyataaan yang sebenarnya bukan kenyataan sementara atau keadaan yang menipu ataupun kenyataan yang berubah. Bentuk realiatas secara transedental dari Tuhan yang merupakan ciptaannya dengan segala pluralitasnya yang berbentuk (alam dunia ini) atau yang tidak terbentuk (abstrak) untuk dipahami dan diketahui eksitensinya, ataupun secara ideal dan empirik.
Ontologi diartikan menurut bahasa berasal dari bahasa Yunani yaitu ontos “sesuatu yang berwujud” logos yaitu “teori tentang hakikat yang ada” jadi secara istilah ontologi yaitu hakikat yang dikaji dan hakikat realitas yang ada tentang kebenaran atau juga hakikat segala sesuatu yang ada yang memiliki sifat universal atau hakikat, realistas yang di dalamnya mengandung pluralisme (kemajemukan) untuk memahami adanya eksistensi.[1]
Ontologi merupakan teori hakikat atau ilmu yang mengkaji metafisika. Bidang telaah yang disebut dengan metafisika ini merupakan tempat berpijak dari setiap pemikiran fisafat termasuk pemikiran ilmiah yang menimbulkan berbagai spekulasi tentang hakikat. Berikut ini yang mempengaruhi terhadap basis keilmuan modern dilihat dari sudut pandang yaitu sebagai berikut:

A.     MATERIALISME
Aliran ini menganggap bahwa sumber asal hakikat  bukanlah rohani tetapi materi.  bahwa jiwa dan ruh adalah akibat dari benda atau materi tersebut, sehingga sejatinya eksistensi sesuatu terletak di balik yang fisik. Sebagai contoh tentang teori atom yang dikembangkan oleh Democritos penulis gambarkan sebagai contohnya yaitu:





Jadi materialisme menganggap bahwa hakikat merupakan suatu mekanisme seperti suatu mesin yang besar. Bahwa di dalam tubuh manusia terdapat unsur- unsur materi yaitu berupa daging dalam 1 kg daging terdapat beberapa sel, di dalam 1 sel terdapat beberapa atom bagian terkecil dari atom yaitu inti atom yang terdiri dari beberapa molekul.
Aliran ini mempunyai alasan bahwa hakikat yaitu:
1.      Pada pikiran yang masih sederhana, apa yang kelihatan dan dapat diraba, baiasanya dijadikan kebenaran terakhir. Pikiran sederhana tidak mampu memikirkan sesuatu di luar ruang yang abstrak.
2.      Penemuan-penemuan menunjukkan betapa bergantungnnya jiwa pada badan. Peristiwa jiwa selalu dilihat sebagai jasmani yang selalu menonjol dari peristiwa tersebut.
3.      Sebagai contoh dalam sejarahnya manusia bergantung pada suatu benda seperti padi. Dewi Sri dan Tuhan muncul dari situ. Kesemua itu memperkuat dugaan bahwa yang merupakan hakikat adalah benda.[2]
Pengembagan ilmu berdasarkan materialisme cenderung kepada ilmu-ilmu kealaman yang menganggap bidang ilmunya sebagai induk bagi pengembangan ilmu-ilmu lain. Dalam perkembangan ilmu modern ini disuarakan oleh positivisme.

B.     IDEALISME

Idealisme  yaitu berasal dari kata “idea” yaitu sesuatu yang hadir dalam jiwa. Bahwa hakikat kenyataan yang beraneka ragam itu semua berasal dari ruh (sukma) atau sejenisnya, sesuatu yang tidak berbentuk dan menempati ruangan. Materi atau zat merupakan penjelmaan dari ruhani yaitu  bahwa di balik realitas fisik pasti ada yang tidak tampak. Fisik hanyalah bayang-bayang yang bersifat sementara dan menipu yang akan rusak dan tidak akan membawa kepada kebenaran sejati.
Aliran ini merupakan lawan dari aliran materialisme yang dinamakan juga spritualisme. Alasan hakikat adalah ruhani yaitu:
1.      Nilai ruh lebih tinggi dari pada badan, lebih tinggi nilainya dari materi bagi kehidupan manusia. Ruh itu dianggap sebagai hakikat yang sebenarnya. Sehingga materi hanyalah badan, bayangan atau penjelmaan saja.
2.      Manusia lebih dapat memahami dirinya dari pada dunia luar dirinya.
3.      Materi ialah kumpulan energi yang menempati ruang  benda tidak ada, yang ada energi itu saja.[3]
Pengembangan ilmunya cenderung pada ilmu-ilmu kerohanian dan menganggap bidang ilmu sebagai wadah utama bagi titik tolak pengembangan bidang ilmu-ilmu lain

C.     DUALISME

Aliran ini hendak menggabungkan antara eksistensi fisik dengan eksistensi yang metafisik yang berjalan sejajar tanpa saling mengalahkan yang merupakkan satu kesatuan (monoisme). materi  dan ide itu sama-sama primernya. Tidak ada yang sekunder. Kedua-duanya timbul dan ada persamaan. Materi itu ada karena ada ide atau pikiran. Juga sebaliknya, ide atau pikiran itu ada karena ada materi.
Umumnya mausia tidak akan mengalami kesulitan untuk menerima prinsip dualisme ini, karena setiap kenyataan lahir dapat segera ditangkap oleh panca idera kita, sedangkan kenyataan batin dapat segera diakui adanya oleh akal dan perasaan hidup.
Dalam mencapai suatu kebenaran, baik kebenaran relatif atau kebenaran mutlak diperlukan penelaahan terlebih dahulu apa yang menjadi objeknya dan proses apa yang harus digunakan dalam menganalogikannya. Ontologi memerlukan proses yaitu suatu cara dalam menggunakan metode-metode sehingga sampai pada tahap kebenaran yang diterima oleh hati nurani dalam bnetuk keyakinan yang mendalam identik kepada hal yang metafisik di barengi dengan cara berpikir ideal. Oleh karena itu diperlukan akal dan panca indera sebagai alat untuk memahami, melihat dan mendengar sehingga membantu untuk memantafkan suatu kebenaran. Jadi cara memperoleh pengetahuan yang benar adalah dengan mendasarkan dari pada rasio dan mendasarkan diri pada pengalaman.
III.     EPISTEMOLOGI (Teori Pengetahuan)
Secara etimologi, epistemologi merupakan kata gabungan yang diangkat dari dua kata dalam bahasa Yunani, yaitu episteme dan logos. Episteme artinya pengetahuan, sedangkan logos lazim dipakai untuk menunjukkan adanya pengetahuan sistematik. Dengan demikian epistemologi dapat diartikan sebagai pengetahuan sistematik mengenai pengetahuan.
Epistemologi adalah pengetahuan sistematik mengenai pengetahuan. Ia merupakan cabang filsafat yang membahas tentang  terjadinya pengetahuan, sum-ber pengetahuan, asal mula pengetahuan, sarana, metode atau cara memperoleh pengetahuan, validitas dan kebenaran pengetahuan (ilmiah).
Epistemologi bertalian dengan definisi dan konsep-konsep ilmu, ragam ilmu yang bersifat nisbi dan niscaya, dan relasi eksak antara 'alim (subjek) dan ma'lum (objek). Atau dengan kata lain, epistemologi adalah bagian filsafat yang meneliti asal-usul, asumsi dasar, sifat-sifat, dan bagaimana memperoleh pengetahuan menjadi penentu penting dalam menentukan sebuah model filsafat. Dengan pengertian ini epistemologi tentu saja menentukan karakter pengetahuan, bahkan menentukan “kebenaran” macam apa yang dianggap patut diterima dan apa yang patut ditolak ini merupakan bentuk tanggung jawab atas pengetahuan yang dimiliki.
Menurut Dr.H. Cecep Sumarna mengkaji tentang cara memperoleh pengetahuan yaitu berupa sumber pengetahuan, dan metodologis yaitu bagaimana manusia memperoleh pengetahuan serta norma berfikir seperti apa yang mungkin dapat melahirkan atau dapat memperoleh dan membentuk pengetahuan yang benar (2008:58).
Metode ilmu disini adalah menggunakan akal dan rasio, karena untuk menjelaskan pokok-pokok bahasannya memerlukan analisa akal. Yang dimaksud metode akal di sini adalah meliputi seluruh analisa rasional dalam koridor ilmu-ilmu hushûlî dan ilmu hudhûrî. Dan dari dimensi lain, untuk menguraikan sumber kajian epistemologi dan perubahan yang terjadi di sepanjang sejarah juga menggunakan metode analisa sejarah. Berikut ini yang mempengaruhi terhadap basis keilmuan modern dilihat dari sudut pandang yaitu sebagai berikut

A.  MATERIALISME

Alairan materialisme yang merupakan sumber keilmu yaitu Burhani adalah kerangka berfikir yang tidak di dasarkan atas teks suci maupun pengalaman spritual, melainkan atas dasar keruntutan logika. Pada tahap tertentu, keberadaan teks suci dan pengalaman spritual bahkan hanya dapat diterima jika sesuai dengan aturan logika. Kebenaran harus dapat dibuktikan secara empirik dan diakui menurut penalaran logis.[4] Oleh karena itu tidak salah juga jika ada yang menyatakan bahwa logika adalah ilmu pengetahuan (science) sekaligus juga keterampilan (act) untuk berpikir lurus, cepat dan teratur. contohnya bidang ilmu aliran materialisme diantaranya yaitu ilmu- ilmu Biologi, fisika, astronomi, geologi dan bahkan ilmu-ilmu kemodernan seperti ekonomi, pertanian, dan pertambangan.

B.  IDEALISME

Aliran ini yang merupakan Sumber keilmuan berdasarkan dari kewahyuan yaitu disebut dengan Bayani adalah sebuah metode berfikir yang didasarkan pada teks kitab suci. Teks suci mempunyai otoritas penuh untuk memberikan arah dan arti terhadap kebenaran. Berikut ini contoh ilmu aliran idealisme yaitu Tafsir–Ulumul Qur’an, Hadis-Ulumul Hadis, Fiqh-Usul Fiqh, Bahasa-Sastra dll.

C.   DUALISME

Aliran ini menggabungkan konsep sumber keilmuan berdasarkan Burhani, Bayani dan irfani yaitu model penalaran yang didasarkan atas pendekatan dan pengalaman spritual langsung (direct exprecience) atas realitas yang tampak, rasio digunakan hanya untuk menjelaskan pengalaman spritual. Contoh ilmu aliran ini yaitu akhlak dan tasawuf. Aliran ini aliran non dikhotomik yaitu semata-mata pada nilai-nilai pendidikan yang terkait dengan al-ulum al-dunyawiyah atau semata –mata al-ulum al-kauniyah. 

IV.     AKSIOLOGI (Teori Nilai)

Axiologi berasal dari kata – kata yunani. axios = nilai dan logos berarti pandangan/teori. Secara terminologi axiologi adalah nilai akhir (ultimate value) kebenaran.[5] Jadi manusia harus hidup dan bertindak berdasarkan nilai yang dianggap benar baik dalam persefektif masyarakat maupun dalam persefektif agama. Proses ilmu pengetahuan menjadi sebuah teknologi yang benar-benar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat tentu tidak terlepas dari si ilmuwannya. Seorang ilmuwan akan dihadapkan pada kepentingan-kepentingan pribadi ataukah kepentingan-kepentingan masyarakat akan membawa pada persoalan etika keilmuaan serta masalah bebas nilai estetika.
Etika membicarakan tentang baik buruk dilihat dalam persefektif yang luas atu sesuatu yang dimiliki manusia untuk melakukan berbagai pertimbangan tentang apa yang dinilai atau menilai terhadap perbuatan-perbauatan manusia .
Sedangkan estetika berkaiatan dengan nilai tentang pengalaman keindahan yang dimiliki oleh manusia terhadap lingkungan dan fenomena di sekelilingnya. Atau berbicara tentang indah tidaknya, nikmat dan tidak nikmat, membahagiakan dan tidak membahagiakan. Estetika terkait dengan bidang kesenian. 

A.  MATERIALISME

Aliran ini berpendapat bahwa ilmu tidak terikat pada nilai, selain kepada kebenaran yang nyata. Bahwa ilmu pengetahuan harus bebas nilai. Yang menjadikan kebenaran sebagai Satu-satunya ukuran bagi seluruh kegiatan ilmiah, termasuk penentuan tujuan ilmu pengetahuan dianggap sebagai peluang untuk memasukan pertimbangan nilai di luar nilai kebenaran dalam kegiatan ilmiah diangap tidak mungkin dilakukan.
Faktor penyebab ilmu pengetahuan harus bebas nilai yaitu:
1.   Ilmu harus bebas dari pengandaian-pengandaian yakni bebas dari pengaruh eksternal. Sebab penilaian atas ilmu dengan pengaruh diatas terlalu subjek dan setiap memiliki idealitas nilainya sendiri-sendiri.
2.   Perlunya kebebasan usaha ilmiah agar otonomi ilmu pengetahuan terjamin.
3.   Penelitian ilmiah dengan basis nilai dianggap akan menghambat kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan.[6]
Ilmu pengetahuan sendiri  bertujuan mengupayakan para peneliti sebagai penambah kesenangan manusia dalam kehidupan yang sangat terbatas dimuka bumi ini.

B.  IDEALISME

Aliran ini berpendapat bahwa ilmu terikat oleh nilaietik dan nilai kesusilaan gunanya untuk melengkapi pertimbangan nialai kebenaran yang akan melahirkan suatu prinsip bahwa ilmu pengetahuan harus terikat dengan nilai, ilmu yang diperoleh merupakan proses mental dan psikologi, oleh karena itu etika keilmuan ini harus di tunjukan untuk kebaikan manusia tanpa merendahkan martabat atau mengubah hakikat kemanusiaan. Yang mengacu kepada kaidah moral yaitu hati nurani kebebasan dan tanggung jawab, nilai dan norma yang bersifat kegunaan yang menjadi penghayatan perilaku manusia yang baik dan buruknya. yang paling utama adalah terkait tentang tanggung jawab seseorang. Solusi ilmu yang terikat oleh nilai harus terbuka pada konteks yaitu agama yang mengarahkan ilmu pada tujuan hakiki. Yakni memahami realitas alam, dan memahami eksistensi Allah, agar manusia menjadi sadar akan hakikat penciptaan dirinya. Solusi yang diberikan oleh Al-ur’an terhadap ilmu pengetahuan yang terikat dengan nilai adalah dengan cara menembalikan ilmu pengetahuan pada jalur semestinya, sehingga menajdi berkah dan rahmat kepada manusia dan alam bukan sebaliknya membawa mudharat. Ilmu pengetahuan meringankan beban hidup dan kesenangan manusia. 

C.   DUALISME

Ilmu membawa nilainya sendiri oleh karena itu nilai kebenaran itu dibawa sendiri. Dan kebenaran dalam islam adalah ketika menggunakan menentukan sesuatu dengan berfikir secara rasional atau berpikir alqur’an. Karena berpikir yang benar adalah berpikir yang sesuai dengan dalil (bukti). Banyak nash alqur’an yang menjelaskan tentang seharusnya kita melihat bukti - bukti sebagai objek berfikir dan diyakini oleh sebuah konsep ideal subjek yang harus di buktikan realitasnya. Biasanya di sebut Aqidah Rasional bagi manusia.


V.     PENUTUP 

Ketika seseorang memperoleh pengetahuan tentang wujud atau memetik pelajaran darinya, jika dia memahami sendiri gagasan-gagasan tentang wujud itu dengan inteleknya, dan pembenarannya atas gagasan tersebut dilakukan dengan bantuan demonstrasi tertentu, maka ilmu yang tersusun dari pengetahuan-pengetahuan ini disebut filsafat. Pemikiran filsafat akan berpengaruh terhadap  pemikiran keilmuan terutama keilmuan modern karena ilmu lahir dari filsafat. Filsafat pengetahuan merupakan suatu ilmu yang sangat urgen diketahui dan dipahami oleh peminat ilmu-ilmu univerasal, lagi ia berguna untuk melacak kebenaran suatu ilmu.

Semoga bermanfaat untuk bahan artikel.. bila ada kekuramgam silahkan komentar... terimakasih.
DAFTAR PUSTAKA
Amsal Bakhtiar. Filsafat Ilmu. (2004. PT. Raja Grafindo Persada: Jakarta).
Cecep Sumarna. Filsafat Ilmu. (Bandung: 2008. Mulia Press).
M. Solihin. Perkembangan Filsafat Klasik Hingga Modern. (2007. CV. Pustaka Setia: Bandung).


[1] M. Solihin. Perkembangan Filsafat Klasik Hingga Modern. (2007. CV. Pustaka Setia: Bandung). Hal 170.
[2] Amsal Bakhtiar. Filsafat Ilmu. (2004. PT. Raja Grafindo Persada: Jakarta) hal. 137-138.
[3] Amsal Bakhtiar. Hal 138-139.
[4] Cecep Sumarna. Filsafat Ilmu. (Bandung: 2008. Mulia Press). Hal 34.
[5] Amsal Bakhtiar. Hal 163.
[6] Cecep Sumarna. Hal 214.

Tidak ada komentar: